Sawah Panjang yang digarap penduduk ini mengalami
kekeringan, akibat kemarau yang sangat panjang sehingga banyak dari tanaman petani
yang gagal panen. Untuk mengatasi masalah tersebut kepala-kepala suku berunding
sehingga menghasilkan keputusan
untuk memanfaatkan aliran batang Sumpur dengan membuat kincir air. Melalui
Sawah Panjang tersebut sawah-sawah penduduk
mendapatkan air yang cukup. Posisi Sawah
Panjang berada jalur tinggi yang sangat
strategis mengalirkan air ke sawah-sawah penduduk. Ternyata terjadi permasalahan pembagian air sawah, kesalapahaman suku-suku pemilik sawah di sekitar Sawah Panjang
semakin meruncing, untuk menyelesaikannya ninik mamak melarang
kincir itu berfungsi. Sejak itu hamparan
sawah tersebut kering, masyarakat sisawah menyebutnya liek[2],
bekas sawah ini dijadikan
pemukiman oleh penduduk dan mereka sepakat memberi nama Sisawah yaitu
sisa dan sawah.[3] Mengenai tahun awal nama Sisawah ini muncul tidak ada
yang mengetahui, hanya cerita lisan secara turun temurun.
Versi yang kedua mengenai sejarah Sisawah ini menurut wari nan bajawek halipah nan ditanggung (cerita yang diterima dan diamanatkan orang tua- tua ) berkaitan dengan asal usul kedatangan dua suku besar yaitu kubu Koto Piliang dan kubu Bodi Caniago. Kubu Koto Piliang berasal dari “Mudiak” yakni berasal dari Sumpur Kudus yang beraja kepada rajo Ibadat. Sedangkan, Kubu Bodi Caniago berasal dari Hilir, masuk melalui Batang Sinamar yang berasal dari Guguk Nan Tigo, dibawa oleh tiga datuk, yakni Datuk Malin Putih (Bio-bio), Datuk Pangulu Sati (Ranah Katemuan), dan Binuang Sati (Pulau Basung). Kedua kubu ini ingin saling mendominasi antara satu dengan yang lainnya, sangat susah menerima kedua aliran ini yang berbeda, serta sangat susah menyatukannya. Sehingga pada akhirnya aliran kedua kubu besar ini diterapkan di Sisawah, karena kesulitan menerima kedua kubu ini pada masa awalnya maka wilayah tersebut diberi nama wilayah ini Sisawah “Susah paya menerima sifat dua kubu”.[4]
Versi ninik mamak dan urang tuo-tuo, nagari Sisawah
berasal dari 5 (lima) Jurai yang disebut juga Taratak. Taratak merupakan suatu
pemukiman baru yang kecil dan mempunyai beberapa pondok (dangau), biasanya dikelilingi oleh hutan.[5]
Setiap Jurai dipimpin oleh Urang Tuo
Taratak (Inyik) nan manaruko mananggalung dibantu oleh beberapa orang Tuk Ampek Taratak yang disebut juga Ninik Mamak Limbago (Urang Sako) dan
disetiap Taratak juga mempunyai Kacik nan
Bapagantungan Gadang nan Bapalarasan
yang menjadi Ico Paliaro di taratak
masing-masing. Jurai yang lima tersebut adalah Sibolin, Sungai Tampang, Kabun,
Simawik, dan Rumbai.[6]
Lah Bakorong, Bakampung, Basuku, Bataratak, Badusun,
Bakoto, Baru Banagari. Ado ampek suku dan limo suku yang didalammnyo sapuluah
buah kampung : Caniago, Piliang, Sikumbang, Pitopang, Kampai panjang, Kampai
Darek, Malayu iliah, Malayu Tongah, Malayu Tanjung Pauh jo Tobo. Satiok kampung
adorumah godang nan bagonjong nan dipimpin ninik mamak nan ampek jinih.[7]
(Artinya sudah ada korong, kampung, suku,
taratak, dusun, koto, baru kemudian ada nagari. Ada empat suku dan lima suku
didalamnya sepuluh kampung : Suku Caniago, Piliang, Sikumbang, Pitopang, Kampai
Panjang, Kampai Darat, Melayu Hilir, Melayu Tengah, Melayu Tanjung Paruh, dan
suku Tobo. Setiap kampung ada rumah gadang bergonjong (rumah adat Minangkabau)
yang dipimpin oleh ninik mamak empat jurai.)
Ada empat suku dan
lima suku yang didalamnya terdiri dari sepuluh buah kampung : Caniago, Piliang,
Sikumbang, Pitopang, Kampai Panjang, Kampai Darat, Melayu Hilir, Melayu Tengah, Melayu Tanjung Paru, dan Tobo. Setiap
Kampung ada rumah Gadang yang bergonjong yang dipimpin oleh ninik mamak empat
jinih). Berdasarkan penggabungan adat lima jurai diatas terbentuklah
pemerintahan nagari Sisawah.[8]
Mengenai tahun pastinya awal cerita sejarah adanya nagari Sisawah versi kedua
ini juga tidak ada sumber berupa arsip, hanya melalui cerita lisan secara turun
temurun dari zaman dahulu hingga sekarang.
Analisa penulis
bahwa asal muasal nagari Sisawah ini berdasarkan lima jurai yakni Simawik,
Rumbai, Sungai Tampang, Sibolin dan Kabun. Penduduk jurai-jurai ini berasal
dari dua kubu besar atau aliran yang menempati wilayah ini yakni Kubu Caniago
yang datang dari mudik atau utusan Raja Ibadat yang membentuk taratak Simawik,
Rumbai dan Sungai Tampang dan Kubu Koto Piliang yang datang dari hilir yang
dikenal dengan Datuk Malin Putih yang membentuk taratak Sibolin dan Kabun.
[5] Tsuyoshi
Kato, Adat Minangkabau dan Merantau Dalam
Perspektif Sejarah, (Jakarta : Balai Pustaka, 2005), hal. 65
[6] Wawancara dengan Syair Taktam, selaku tokoh adat dan ninik mamak di
Nagari Sisawah tanggal 22 Februari 2014
[7] Jurin Gagar
Tangari, et all, Asal Muasal Nagari
Sisawah Manuruik Warih Nan Bajawek Halipah Nan Ditampung, (Sisawah : Kantor
Wali Nagari Sisawah, 2002), Hal. 1
Jurin Gagar Tangari, hepo de ya ? :)
ReplyDeleteterimakasih sudah membaca, semoga bermanfaat
ReplyDelete