MAKALAH
SEJARAH PERGERAKAN KEBANGSAAN
INDONESIA
Tentang
SAREKAT
ISLAM
![]() |
Oleh Kelompok V Sesi A
1.
Felia
Siska (10020012)
2.
Silvi
Elvitrawati (10020022)
Dosen Pembimbing
Kaksim, S.Pd.I,
M.Pd
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
SEKOLAH
TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
2012
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah Swt yang telah memberikan rahmat, kekuatan, dan
kemampuan sehingga Penulis dapat menyelesaikan Makalah Sejarah Pergerakan
Kebangsaan Indonesia tentang “ Sarekat Islam”.
Makalah
ini membahas Latar
belakang berdirinya organisasi Sarekat Islam, kepengurusan, arah organisasi
baik itu di bidang politik maupun di bidang Sosial-budaya, perkembangan
organisasinya serta pengaruh organisasi Sarekat Islam dalam mewujudkan
Indonesia merdeka yang sangat mempunyai peranan yang sangat besar sekali.
Penulis
menyadari bahwa makalah ini mempunyai banyak kelemahan dan kekurangan, untuk
itu Penulis mengharapkan kritik, saran dan sumbangan pemikirannya demi
sempurnanya Makalah ini. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih atas
dukungan dari berbagai pihak dalam pembuatan Makalah tentang Organisasi Sarekat
Islam.
Padang, September 2012
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
1
B. Batasan
masalah 1
C. Rumusan
masalah 2
D. Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Latar
Belakang berdirinya 3
B. Berdiri 4
C. Kepengurusan 5
D. Arah
Organisasi dan perkembangannya
6
E. Pengaruhnya
dalam mewujudkan Kemerdekaan Indonesia 10
BAB III PENUTUP
A. Penutup 11
B. Saran 11
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Seiring dengan perkembangan zaman bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia tak terlepas dari awal
lahirnya organisasi-organisasi pergerakan perjuangan kebangsaan Indonesia
Modern, untuk itu perlu dikaji dan dibahas bahwa perjuangan rakyat Indonesia
dalam mencapai kemerdekaan sangat panjang dan berliku serta membutuhkan korban
yang tidak sedikit jumlahnya. Salah satu dari organisasi tersebut adalah
Sarekat Islam.
Organisasi
Serikat Islam pada awalnya merupakan perkumpulan pedagang-pedagang Islam.
Organisasi ini dirintis pada tahun 1909 oleh R.M. Tirto Adi Suryo pada tahun
1909 dengan tujuan untuk melindungi hak-hak pedagang pribumi Muslim dari
monopoli dagang yang dilakukan untuk pedagang-pedagang besar Tionghoa.
B.
Batasan
Masalah
Sesuai
dengan latar belakang masalah maka materi yang dikaji akan difokuskan pada
pembahasan mengenai aspek berikut :
1)
Latar
Berdirinya Organisasi Sarekat Islam
2)
Berdirinya
Organisasi Sarekat Islam
3)
Kepengurusan Organisasi Sarekat Islam
4)
Arah
Organisasi dan Perkembangannya
5)
Pengaruhnya dalam mewujudkan Indonesia
merdeka
C.
Rumusan
masalah
Berdasarkan
batasan masalah maka, dapat dirumuskan permasalahannya yaitu sebagai berikut :
1) Apa
yang melatarbelakangi berdirinya Organisasi Sarekat Islam ?
2) Bagaimanakah
proses berdirinya Organisasi Sarekat Islam ?
3) Bagaimana
bentuk kepengurusan Organisasi Sarekat islam ?
4) Kemana
arah Organisasi dan perkembangannya ?
5) Apa
pengaruhnya dalam mewujudkan Indonesia Merdeka ?
D.
Tujuan
Pada
pembuatan makalah ini, penulis memiliki maksud dan tujuan untuk menjawab
rumusan masalah diatas yang akan dikemukakan pada subbab. Adapun ruang lingkup
pembahasan mencakup hal dibawah ini :
1.
Bertujuan
untuk menjelaskan Latarbelakang berdirinya Organisasi Sarekat islam
2.
Bertujuan untuk menjelaskan Proses berdirinya
organisasi
3.
Bertujuan
untuk menjelaskan Arah organisasi dan perkembangannya
4.
Bertujuan
untuk menjelaskan pengaruhnya dalam mewujudkan Indonesia Merdeka
BAB II
A.
Latar
Belakang Berdirinya
Organisasi Serikat Islam pada
awalnya merupakan perkumpulan pedagang-pedagang Islam. Organisasi ini dirintis
pada tahun 1909 oleh R.M. Tirto Adi Suryo pada tahun 1909 dengan tujuan untuk
melindungi hak-hak pedagang pribumi Muslim dari monopoli dagang yang dilakukan
untuk pedagang-pedagang besar Tionghoa.
Namun
pada tahun 1911 di Solo, Haji Samanhudi (seorang pengusaha batik) mendirikan
sebuah perkumpulan bernama Sarekat Dagang Islam. Lahirnya sarekat Dagang Islam
ini didorong oleh faktor ekonomi dan agama[1].
Latar belakang ekonomis perkumpulan ini ialah
perlawanan dagang antara (penyalur) oleh orang Cina,[2]
pada saat itu orang-orag china memegang monopoli di bidang perdagangan bahan
baku batik. Akibat monopoli di bidang perdagangan tersebut sangat terasa bagi
pengusaha Indonesia, terutama dalam usaha untuk mendapatkan barang-barang
kebutuhan bahan baku untuk keperluan membatik.
Di bawah
pimpinan H. Samanhudi perkumpulan ini berkembang pesat hingga menjadi
perkumpulan yang berpengaruh dan akhirnya pada tahun 1912 oleh pimpinannya yang
baru yaitu Haji Omar Said Cokroaminoto namanya diubah menjadi Sarekat Islam .
Hal ini dilakukan agar organisasi ini tidak hanya bergerak dalam bidang
ekonomi, tapi juga dalam bidang lain seperti politik[3].
Walaupun dalam anggaran dasarnya tidak terlihat adanya unsur politik, tapi
dalam kegiatannya SI menaruh perhatian besar terhadap unsur-unsur politik dan
menentang ketidakadilan serta penindasan yang dilakukan oleh pemerintah
kolonial. Artinya SI memiliki jumlah anggota yang banyak sehingga menimbulkan
kekhawatiran pihak belanda.
B.
Berdiri
1.
Sarekat
Dagang Islam
Serikat Dagang Islam
didirikan pada tanggal 27 Maret 1909 di rumah Tirto Adhi Soerjo di Bogor dengan
keluarga Badjenet, namun baru mendapat peresmian dari pihak pemerintah
Hindia-Belanda pada tanggal 5 April 1909. Pada perjalanannya terjadi perbedaan
pandangan dan tujuan organisasi antara Tirto Adhi dan Badjenet, Tirto Adhi
menghendaki organisasi di arahkan kepada suatu pergerakan dalam bidang politik
sedangkan keluarga Badjenet hanya semata-mata untuk kepentingan dagang.
2.
Sarekat
Islam
Dengan keluarnya
keluarga Badjenet dari keanggotaan SDI, maka arah dan tujuan SDI diwarnai
gerakan dalam bidang politik. Untuk masuk ke kota-kota kecil, maka Tirto Adhi
menganjurkan untuk didirikan Serikat Dagang Islam di Solo yang di ketua oleh
Haji Samanhoedi pada tanggal 9 November 1911. Dalam penyusunan dasar organisasi
maka dagangnya dihilangkan menjadi Sarekat Islam. Sejak itulah organisasi ini
mulai mengubah langkah pergerakannya dari bidang ekonomi ke arah bidang
politik.[4]
C.
Kepengurusan
1.
Susunan
kepengurusan
Susunan
kepengurusan Serikat Dagang Islam yang berdiri pada tanggal 27 Maret 1909 di
Bogor
Presiden :
Sjech Achmad bin Abdoelrachman Badjenet
Wakil
Presiden : dr. Mohamad Dagrim
Komisaris :
Sjech Achmad bin Said Badjenet. Sjech Galib bin
Said Tebe. Sjech
Mohamad bin Badjenet, Mas Railoes, dan Haji Mohamad Arsad
Kasir :
Sjech Said bin Abdurrachman Badjenet
Secretaries-Adviseur : R.M.
Tirto Adhi Soerjo[5].
2.
Tujuan
organisasi
1. Memajukan
perdagangan
2. Memberikan
pertolongan kepada anggotanya yang mengalami kesukaran dalam bidang usaha
3. Memajukan
kepentingan jasmani dan rohani penduduk asli
4. Memajukan
pengajaran dan semua usaha yang mempercepat naiknya derajat rakyat.
5. Memajukan
kehidupan beragama
6. Memperbaiki
pendapat-pendapat yang keliru mengenai agama Islam.
D.
Arah
Organisasi dan Perkembangannya
1.
Organisasi
Sosial
2.
Politik
Perkembangan Organisasi Sarekat
Islam semakin Pesat, yang memiliki cabang-cabang di berbagai daerah, untuk
mempermudah pengawasan terhadab cabang tersebut maka pada kongres Sarekat Islam
di Yogayakarta pada tahun 1914, HOS Tjokroaminoto terpilih sebagai
Ketua Sarekat Islam yang membentuk Central Serikat Islam (CSI).[6] Ia
berusaha tetap mempertahankan keutuhan dengan mengatakan bahwa kecenderungan
untuk memisahkan diri dari Central
Sarekat Islam harus dikutuk dan persatuan harus dijaga karena Islam
sebagai unsur penyatu.
Politik Kanalisasi Idenburg cukup
berhasil, karena Central Sarekat Islam baru diberi pengakuan badan hukum pada
bulan Maret 1916 dan keputusan ini diambil ketika ia akan mengakhiri masa
jabatannya. Idenburg digantikan oleh Gubernur
Jenderal van Limburg Stirum (1916-1921). Gubernur Jenderal baru itu
bersikap agak simpatik terhadap Sarekat Islam.
Namun sebelum Kongres Sarekat Islam
Kedua tahun 1917 yang diadakan
di Jakarta muncul aliran revolusionaer sosialistis yang dipimpin oleh Semaun.
Pada saat itu ia menduduki jabatan ketua pada SI lokal Semarang. Walaupun
demikian, kongres tetap memutuskan bahwa tujuan perjuangan Sarekat Islam adalah
membentuk pemerintah sendiri dan perjuangan melawan penjajah dari kapitalisme
yang jahat. Dalam Kongres itu diputuskan pula tentang keikutsertaan partai
dalam Voklsraad. HOS Tjokroaminoto (anggota yang diangkat) dan Abdul Muis
(anggota yang dipilih) mewakili Sarekat Islam dalam Dewan Rakyat (Volksraad).
Pada Kongres Sarekat Islam Ketiga tahun 1918 di Surabaya, pengaruh
Sarekat Islam semakin meluas. Sementara itu pengaruh Semaun menjalar ke
tubuh SI. Ia berpendapat bahwa pertentangan yang terjadi bukan antara
penjajah-penjajah, tetapi antara kapitalis-buruh. Oleh karena itu, perlu
memobilisasikan kekuatan buruh dan tani disamping tetap memperluas pengajaran
Islam. Dalam Kongres SI Keempat tahun 1919, Sarekat Islam memperhatikan gerakan
buruh dan Sarekat Sekerja karena hal ini dapat memperkuat kedudukan partai
dalam menghadapi pemerintah kolonial. Namun dalam kongres ini pengaruh sosial
komunis telah masuk ke tubuh Central
Sarekat Islam (CSI) maupun cabang-cabangnya. Dalam Kongres Sarekat Islam
kelima tahun 1921, Semaun melancarkan kritik terhadap kebijaksanaan Central
Sarekat Islam yang menimbulkan perpecahan.
Rupanya benih perpecahan semakin
jelas dan dua aliran itu tidak dapat dipersatukan kembali. Dalam Kongres Luar
Biasa Central Sarekat Islam yang diselenggarakan tahun 1921 dibicarakan masalah
disiplin partai. Abdul Muis (Wakil
Ketua CSI) yang menjadi pejabat Ketua CSI menggantikan Tjokroaminoto
yang masih berada di dalam penjara, memimpin kongres tersebut. Akhirnya Kongres
tersebut mengeluarkan ketetapan aturan Disiplin Partai[7].
Artinya, dengan dikeluarkannya aturan tersebut, golongan komunis yang diwakili
oleh Semaun dan Darsono, dikeluarkan dari Sarekat Islam. Dengan pemecatan
Semaun dari Sarekat Islam, maka Sarekat Islam pecah menjadi dua, yaitu Sarekat Islam Putih yang berasaskan
kebangsaan keagamaan di bawah pimpinan Tjokroaminoto dan Sarekat Islam Merah yang berasaskan komunis di bawah pimpinan Semaun yang
berpusat di Semarang.
Pada Kongres Sarekat Islam Ketujuh tahun 1923 di Madiun
diputuskan bahwa Central Sarekat Islam digantikan menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). dan cabang
Sarekat Islam yang mendapat pengaruh komunis menyatakan diri bernaung dalam Sarekat Rakyat yang merupakan
organisasi di bawah naungan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Pada periode antara tahun 1911-1923 Sarekat Islam menempuh
garis perjuangan parlementer dan evolusioner. Artinya, Sarekat Islam mengadakan
politik kerja sama dengan pemerintah kolonial. Namun setelah tahun 1923,
Sarekat Islam menempuh garis perjuangan nonkooperatif. Artinya, organisasi
tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial, atas nama dirinya sendiri.
Kongres Partai Sarekat Islam tahun 1927 menegaskan bahwa tujuan perjuangan
adalah mencapai kemerdekaan nasional berdasarkan agama Islam. Karena tujuannya
adalah untuk mencapai kemerdekaan nasional maka Partai Sarekat Islam
menggabungkan diri dengan Pemufakatan
Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI).
Pada tahun
1927 nama Partai Sarekat Islam ditambah
dengan “Indonesia” untuk menunjukan perjuangan kebangsaan dan kemudian namanya
menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia
(PSII).[8]
Perubahan nama itu dikaitkan dengan kedatangan dr. Sukiman dari negeri Belanda.
Namun dalam tubuh PSII terjadi perbedaan pendapat antara Tjokroaminoto yang
menekankan perjuangan kebangsaan di satu pihak, dan di pihka lain dr. Sukiman
yang menyatakan keluar dari PSII dan mendirikan Partai Islam Indonesia
(PARI). Perpecahan ini melemahkan PSII. Akhirnya PSII pecah menjadi PSII Kartosuwiryo, PSII Abikusno, PSII, dan PARI dr. Sukiman
E.
Pengaruhnya
dalam Mewujudkan Indonesia Merdeka
1. Organisasi
Sarekat Islam memiliki Peranan penting dalam penyatuan masyarakat dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia.
2. Dengan
adanya Sarekat Islam telah memberikan semangat bangsa Indonesia untuk melawan
penjajahan, terutama dari tujuan awalnya yaitu mendapatkan hak-hak para pedagang
batik di Pulau Jawa dari bangsa China.
3. Sarekat
Islam sebagai pemersatu umat Islam dan membangkitkan semangat nasionalisme
4. Sarekat
Islam juga sebagai Cikal bakal lahirnya berbagai partai politik dan berbagai
aliran sebagai penambah kazhanah percaturan politik sebelum kemerdekaan bangsa
Indonesia.
BAB III
P E N U T U P
A.
Kesimpulan
Sarekat
Islam merupakan sebuah organisasi yang berdiri pada tahun 1909 dengan nama
Sarekat Dagang Islam. Namun pada tahun 1911 berganti nama menjadi Sarekat
Islam, dimana pada awalnya organisasi ini hanya bergerak di bidang
Sosial-Budaya seiring perkembangannya alirannya berubah haluan menjadi bersifat
Politik.
Organisasi
Sarekat Islam ini memiliki peranan yang sangat penting dalam mewujudkan
kemerdekaan, dimana organisasi ini telah berhasil menimbulkan rasa nasionalisme
dan rasa persatuan bahwa kita bangsa Indonesia harus bisa menumpas penjajahan
dan harus meraih kemerdekaan. SI telah berhasil mencetak kaum-kaum Intelektual.
B.
Kritik
dan Saran
1. Makalah
ini hendaknya dilengkapi dengan buku sumber yang lebih banyak sehingga
pemahaman materi lebih rinci dan lebih
banyak perbandingannya.
2. Makalah
ini diharabkan bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk materi yang tercakup.
DAFTAR PUSTAKA
Enar, Fatimah. 2008. Kapita
Selekta Sejarah Indonesia dan Dunia. Padang : Program Belajar
Jarak
Jauh Unit Pembina Regional III IKIP Padang 1982.
Noer, Deliar. 1994. Gerakan Moderen Islam di Indonesia
1900-1942. Jakarta : PT Pustaka
LP3ES.
Poesponegoro, Marwati
Djoened, Dkk. 1992. Sejarah Nasional
Indonesia V. Jakarta : Balai
Pustaka.
Sudiyo. 2002. Pergerakan Nasional Mencapai &
Mempertahankan Kemerdekaan. Jakarta : PT
Rineka
Cipta.
Syamdani. 2012. Tan Malaka Nasionalisme seorang Revolusioner.
Jakarta : TERAS
Setianto,
Yudi. Sarekat
Islam: Gerakan Awal Nasional-Religius Di Indonesia.
[1]
Fatimah Enar, Kapita Selekta Sejarah
Indonesia dan Dunia, hlm. 8
[2]Marwati
djoened Poesponegoro, Sejarah Nasional
Indonesia V, hlm.183
[3]
Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di
Indonesia 1900-1942, hlm. 114
[4]
Sudiyo, Pergerakan Nasional Mencapai dan
Mempertahankan Kemerdekaan, Hlm. 30-31
[5] Ibid, hlm. 29
[6]
Fatimah Enar, Kapita Selekta Indonesia
dan Dunia, Hlm. 9
[7][7]
Syamdani, Tan Malaka Nasionalisme Seorang
Revolusioner, Hlm. 88-89
[8]
Fatimah Enar, Kapita Selekta Sejarah
Indonesia dan Dunia, hlm. 3

No comments:
Post a Comment