TEORI
KRITIS MAZHAB FRANKFURT[1]
OLEH
FELIA
SISKA[2]
NIM.16166003
I.
Latar
Belakang Lahirnya Mazhab Frankfurt
Mazhab Frankfurt (Frankfurt
School) pertama kali muncul pada tahun 1923, tetapi baru pada sekitar tahun
1930 aliran ini dikenal di Jerman. Frankfurt School sering disebut
dengan banyak nama, diantaranya Teori Kritis, Mazhab Frankfurt atau Teori
Kritik Masyarakat. Tokoh-tokohnya antara lain Max Horkheimer, Theodor W.
Adorno, Herbert Marcuse, dan Habermas. Pendekatan mereka sering disebut sebagai
teori kritis (critical theory). Sedangkan Adorno, seperti dinyatakan William Outhwaite merupakan
the most important thinker of the Frankfurt School.[3]
Mazhab Frankfurt lahir saat terjadi pergolakan ideologi
Barat dan Timur di tengah kapitalisme Barat dan Jerman yang sedang tumbuh.
Sementara, seiring dengan kondisi itu revolusi kaum pekerja di Eropa Barat
mengalami kegagalan. Maka, Mazhab Frankfurt lahir sebagai kekuatan utama dalam
menghidupkan kembali Marxisme pasca perang. Di
sinilah, menurut Martin Jay, Teori Kritis semakin dipaksa menempati posisi
transendan. Ketertarikan Mazhab Frankfurt terhadap pemikiran Karl Marx disebabkan antara lain oleh ketidakpuasan mereka terhadap penggunaan
teori-teori Marxisme oleh kebanyakan orang lain, yang mereka anggap merupakan
pandangan sempit terhadap pandangan asli Karl Marx.[4] Menurut mereka, pandangan
sempit ini tidak mampu memberikan 'jawaban' terhadap situasi mereka pada saat
itu di Jerman. Setelah Perang
Dunia Pertama dan meningkatnya kekuatan politik Nazi, Jerman yang ada pada saat itu sangatlah berbeda dengan Jerman yang dialami Karl
Marx. Sehingga jelaslah bagi para pemikir Mazhab
Frankfurt bahwa Marxisme harus dimodifikasi untuk bisa menjawab tantangan zaman.
Sedangkan menurut Sindhunata Tujuan aliran ini adalah untuk menyegarkan ajaran-ajaran
Marx sesuai kondisi saat itu. Sejak awal tokoh-tokoh yang ada dalam lembaga
penelitian ini melancarkan kritiknya dan melakukan penentangan terhadap
kebijakan politik nasional-sosialisme. Apalagi kebanyakan anggotanya adalah
keturunan Yahudi. Karena itu, setelah sempat ditutup atas perintah pemerintah
nasional-sosialis ketika Hitler mulai berkuasa pada tahun 1933, institut ini
pindah ke New York, namun kemudian kembali lagi ke Frankfurt pada tahun 1949.[5]
Dari sejarah awal lahirnya teori
kritis tersebut dapat dijadikan sebuah acuan atau teoritis dalam mengkaji dunia pendidikan. Pada saat ini,
pendidikan tampak kurang memperhatikan nilai kebebasan yang masih bersifat
tekstual. Oleh karena itu, tulisan ini akan mengupas pendidikan dari sudut
pandang teori kritis dengan tujuan menemukan pemecahan masalah, yaitu
pendidikan yang berbasis pembebasan dengan cara berpikir kontekstualitas.
I.
Tujuan
Mazhab Frankfurt sangat dekat
dengan aliran Marxis, sehingga dapat dikatakan sebagai Neo-Marxis. Hal ini dapat dilihat dari landasan berpikir
yang mendasari Teori Kritis dengan
menggunakan landasan berpikir dari Karl Marx. Namun, para ahli dalam Mazhab Frankfurt tidak mau mengikuti begitu
saja pemikiran Karl Marx, sehingga mereka
melakukan perombakan atau penafsiran ulang ajaran Karl Marx. Karena itu,
mereka melahirkan konsep-konsep yang
berbeda dari Marxisme yang telah dibakukan menjadi ideologi. Akibatnya, oleh Marxisme Ortodok, aliran ini dianggap
sebagai alirang murtad. Meskipun
demikian, Mazhab Frankfurt dan golongan pembaharu Marxis lainnya tetap memakai analisis ataupun semangat Marx
muda untuk melihat masyarakat modern.
Marxisme dalam perkembangannya
dapat digolongkan ke dalam tiga aliran besar. Pertama, golongan yang sering dikatakan sebagai Marxisme kanan
atau Marxisme Ortodoks. Kelompok ini
membakukan ajaran Karl Marx yang dilanjutkan oleh Engels dan kemudian ditafsirkan oleh Lenin
menjadi ideologi baku. Golongan kedua, merupakan kelompok yang melihat ketidaksesuaian penafsiran golongan pertama
terhadap konsep Marxisme karena
mereka mengatakan Kapitalisme akan runtuh dengan sendirinya, tetapi terbukti sampai saat ini tidak
runtuhruntuh tetapi justru malah menguat. Golongan ketiga, merupakan penggolongan dalam tingkat ekonomi makro
mengenai hubungan antarnegara. Teori
mereka mengenai hubungan antara negara dunia ketiga dengan dunia maju, yang
tidak lebih dari hubungan penghisapan. Negara maju ternyata menyedot kekayaan
dari dunia ketiga, karena meskipun negara maju memberikan dollar sebagai
pinjaman untuk investasi, tetapi di balik itu negara dunia ketiga harus menandatangani kontrak
kesepakatan. Teori dependensi merupakan teori yang ditawarkan golongan Marxisme yang mencoba melawan teori-teori
modernitas. Mazhab Frankfurt masuk
ke dalam golongan kedua.
Jadi, tujuan terbentuknya
komunitas ini (Mazhab Frankfurt)
pada dasarnya adalah untuk
pencerahan yang ditindaklanjuti dengan aksi.
Meskipun tidak terkait dengan Marxisme, analisisnya
tetap didasarkan pada kritisisme Karl
Marx, terutama kemampuan Marx untuk menyadarkan
golongan tertindas. Jadi, semangat yang
mendasari Aliran Kritis ini dapat dikatakan
sama dengan keinginan Marx yang menghendaki
masyarakat yang bebas dari eksploitasi.
II.
Analisis
teori
Argumen Dialetika Pencerahan
Teoretisi posmodern berbicara
tentang posmodernitas sementara
teoretisi kritis berbicara tentang kapitalisme posmodern dengan menyatakan
adanya beberapa perbedaan dalam pandangan mereka. Teori kritis Mazhab Frankfurt
dalam penekanan ideologi, kesadaran dan budaya mengarah pada teoretisi posmodern.
Teori ini berusaha membuat transformasi teoretis bukan hanya dalam Marxisme
namn pada semua teori modernitas.
Horkheimer dan Adorno dalam Dialectics of Enlightenment mengkritik
semua teori modernitas terdahulu, termasuk teori Marx tentang “Dominasi”.
Mereka menyatakan bahwa teori kritis mereka sendiri lebih merupakan kritik
menyeluruh atas peradaban dibandingkan dengan karya Marx yang hanya menerapkan
kiritikan terhadap Kapitalisme. Mereka juga mengkonsepkan positivisme sebagai
salah satu contoh terbaru upaya untuk mendominasikan ini. Teori Positivis
pengetahuan tentang menyatakan baha kita mengatasi ketidaktahuan dan
ketakmenentuan melalui teknik dan prosedur ilmu ala, khususnya Matematika.
Pencerahan dipremiskan berdasarkan nafsu barat dalam mengatasi ketakutan dan
ketidaktahuan dengan kepastian sains dan teknologi, yang merupakan contoh
dominasi. Kelompok ini tidak melawan Pencerahan, namun mereka tidak sepakat
dengan pencerahan, sebab aliran pencerahan telah membuat ilmu sains, teknologi
dan sosial menjadi mitos.
Teori Dominasi yang dikembangkan
oleh Mazhab Frankfurt disebutkan juga dengan Teori Kritik Identitas dalam Buku
Adorno Nagative Dialectics.[6]
Kritik Mazhab Frankfurt atas teori identitas sangat mirip dengan kritik
postmodern atas repsentasi yang keduanya muncul dalam kritik positivisme. Teori
identitas bukanlah teori pengetahuan menurut Adorno, namun ini
merepresentasikan teori sosial, bahkan filsafat sejarah, yang menyatakan bahwa
subjek dapat menguasai sepenuhnya objek.
Pandangan tentang identitas ini ada di hati arogansi peradaban barat
sehubungan dengan dominasi atas alam, yang menurut teoretisi Frankfurt telah
mengarah pada semua sikap kasar, baik kepada manusia maupun kepada lingkungan.
Argumen
Industri Budaya
Menurut Madzhab Frankfurt, industri
budaya merefleksikan konsolidasi dari komoditas
fetis (commodity fetishism) dan dominasi dari pertukaran nilai monopoli kapital (Dominic 1995). Komoditas yang
diproduksi oleh industri budaya dibentuk
dengan kesadaran penuh tentang sebesar apakahnya nilainya di pasar. Motif keuntungan sangat jelas hingga
memerlukan standardisasi. Salah satu contohnya adalah sistem bintang di Hollywood[7].
Sebagai pelopor generasi pertama
Madzhab Frankfurt, Horkheimer dan Adorno banyak bekerja dalam kajian-kajian kritis budaya. Kedua ilmuwan Jerman
yang banyak dipengaruhi oleh
pemikiran Marxisme ini melihat identitas yang ada dalam masyarakat sebagai sesuatu yang palsu secara umum
maupun khusus. Pemikiran Horkheimer dan Adorno
bermaksud memperjelas secara rasional struktur yang dimiliki oleh masyarakat industri sekarang dan melihat
akibat-akibat dari struktur tersebut dalam kehidupan manusia dan kebudayaan. Menurut
pandangan Marx, dalam kapitalis modern terdapat hubungan antara modal kapital dan pekerja. Hal ini akan tampak
dalam hubungan diantara subyek-subyek individual
yang bebas yakni pekerja dan yang memberi kerja. Relasi produksi ini berlangsung karena adanya ideologi
dalam kehidupan sosial dan budaya. Masyarakat modern telah terkontaminasi oleh
gerakan pencerahan abad ke- 18
dengan konsep pengagungan rasionya. Berbasis pada rasio inilah, Max Horkheimer mulai menganalisis keadaan masyarakat
pasca-industri dan mengkritiknya karena tidak
sesuai dengan konsep rasionalitas pencerahan itu sendiri.
Teori Kritis adalah sebuah gerakan
intelektual yang dilakukan bersama-sama oleh sekelompok intelegensia dalam kurun sejarah tertentu. Teori kritis
mau melawan dan menghantam segala
bentuk teori yang bersikap obyektif dengan mengambil jarak terhadap historis nyata. Madzhab Frankfurt bermaksud memperjelas
secara rasional struktur yang dimiliki oleh
masyarakat industri sekarang dan melihat akibat-akibat struktur tersebut
dalam kehidupan manusia dan dalam
kebudayaan. Madzhab Frankfurt menjelaskan semua itu dengan bertolak dari pemahaman tentang rasio dewasa ini, yaitu
rasio teknik instrumental
(Horkheimer 1974). Mereka ingin membangun teori yang mengkritik struktur dan konfigurasi masyarakat
aktual sebagai akibat dari suatu pemahaman yang keliru tentang rasio.
[1]
Tugas Mata Kuliah Teori-teori Sosial dengan Dosen Pembina Mata Kuliah Prof. Dr.
Nusyirwan Effendi
[2]
Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Universitas
Negeri Padang, Angkatan Tahun 2016.
[3]
Achmad Bahrur Rozi, “Pendidikan Dalam Perspektif Teori Kritis (Ke Arah
Kontekstualisasi Pendidikan Yang Membebaskan)”, Jurnal Pelopor Pendidikan (5 : 1, Januari 2014), hal. 31-32.
[4]
Ben Agger, Teori Sosial Kritis :
Kritikan, Penerapan dan Implikasinya, (Yogyakarta : Kreasi Wacana, 2003),
hal. 157-158
[5] K
Bertens, Sejarah Filsafat Barat Abad XX :
Inggris-Jerman, (Jakarta : Gramedia, 1990), hal. 177
[6]
Salah satu buku yang ditulis oleh Adorno tahun 1973 yang berisi tentang kritikan terhadap
filsafat idealis dan eksistensialis. Dalam bukunya ini membahas tentang Teori
Kritik Identitas. Adorno memandang bahwa teori kritik identitas merupakan teori
pengetahuan yang menyatakan bahwa konsep dalam bahasa dapa dijabarkan dunia
eksternal secara sempurna.
[7]
Heidy Arviani dalam (Dominic 1995), “Budaya Global dalam Industri Budaya :
Tinjauan Mazhab Frankfurt dalam Ikalan, Pop
Culture, dan Industri Hiburan”, Global
& Policy (1 :2, Juli-Desember 2013), hal. 131-132
No comments:
Post a Comment