Tuesday, January 8, 2019

TEORI KRITIS MAZHAB FRANKFURT


TEORI KRITIS  MAZHAB FRANKFURT[1]

OLEH
FELIA SISKA[2]
NIM.16166003

I.                   Latar Belakang Lahirnya Mazhab Frankfurt
Mazhab Frankfurt (Frankfurt School) pertama kali muncul pada tahun 1923, tetapi baru pada sekitar tahun 1930 aliran ini dikenal di Jerman. Frankfurt School sering disebut dengan banyak nama, diantaranya Teori Kritis, Mazhab Frankfurt atau Teori Kritik Masyarakat. Tokoh-tokohnya antara lain Max Horkheimer, Theodor W. Adorno, Herbert Marcuse, dan Habermas. Pendekatan mereka sering disebut sebagai teori kritis (critical theory). Sedangkan Adorno,  seperti dinyatakan William Outhwaite merupakan the most important thinker of the Frankfurt School.[3]
Mazhab Frankfurt lahir saat terjadi pergolakan ideologi Barat dan Timur di tengah kapitalisme Barat dan Jerman yang sedang tumbuh. Sementara, seiring dengan kondisi itu revolusi kaum pekerja di Eropa Barat mengalami kegagalan. Maka, Mazhab Frankfurt lahir sebagai kekuatan utama dalam menghidupkan kembali Marxisme pasca perang. Di sinilah, menurut Martin Jay, Teori Kritis semakin dipaksa menempati posisi transendan. Ketertarikan Mazhab Frankfurt terhadap pemikiran Karl Marx disebabkan antara lain oleh ketidakpuasan mereka terhadap penggunaan teori-teori Marxisme oleh kebanyakan orang lain, yang mereka anggap merupakan pandangan sempit terhadap pandangan asli Karl Marx.[4] Menurut mereka, pandangan sempit ini tidak mampu memberikan 'jawaban' terhadap situasi mereka pada saat itu di Jerman. Setelah Perang Dunia Pertama dan meningkatnya kekuatan politik Nazi, Jerman yang ada pada saat itu sangatlah berbeda dengan Jerman yang dialami Karl Marx. Sehingga jelaslah bagi para pemikir Mazhab Frankfurt bahwa Marxisme harus dimodifikasi untuk bisa menjawab tantangan zaman. Sedangkan menurut Sindhunata Tujuan aliran ini adalah untuk menyegarkan ajaran-ajaran Marx sesuai kondisi saat itu. Sejak awal tokoh-tokoh yang ada dalam lembaga penelitian ini melancarkan kritiknya dan melakukan penentangan terhadap kebijakan politik nasional-sosialisme. Apalagi kebanyakan anggotanya adalah keturunan Yahudi. Karena itu, setelah sempat ditutup atas perintah pemerintah nasional-sosialis ketika Hitler mulai berkuasa pada tahun 1933, institut ini pindah ke New York, namun kemudian kembali lagi ke Frankfurt pada tahun 1949.[5]
Dari sejarah awal lahirnya teori kritis tersebut dapat dijadikan sebuah acuan atau teoritis dalam mengkaji dunia pendidikan. Pada saat ini, pendidikan tampak kurang memperhatikan nilai kebebasan yang masih bersifat tekstual. Oleh karena itu, tulisan ini akan mengupas pendidikan dari sudut pandang teori kritis dengan tujuan menemukan pemecahan masalah, yaitu pendidikan yang berbasis pembebasan dengan cara berpikir kontekstualitas.

I.                   Tujuan
Mazhab Frankfurt sangat dekat dengan aliran Marxis, sehingga dapat dikatakan sebagai Neo-Marxis. Hal ini dapat dilihat dari landasan berpikir yang mendasari Teori Kritis dengan menggunakan landasan berpikir dari Karl Marx. Namun, para ahli dalam Mazhab Frankfurt tidak mau mengikuti begitu saja pemikiran Karl Marx, sehingga mereka melakukan perombakan atau penafsiran ulang ajaran Karl Marx. Karena itu, mereka melahirkan konsep-konsep yang berbeda dari Marxisme yang telah dibakukan menjadi ideologi. Akibatnya, oleh Marxisme Ortodok, aliran ini dianggap sebagai alirang murtad. Meskipun demikian, Mazhab Frankfurt dan golongan pembaharu Marxis lainnya tetap memakai analisis ataupun semangat Marx muda untuk melihat masyarakat modern.
Marxisme dalam perkembangannya dapat digolongkan ke dalam tiga aliran besar. Pertama, golongan yang sering dikatakan sebagai Marxisme kanan atau Marxisme Ortodoks. Kelompok ini membakukan ajaran Karl Marx yang dilanjutkan oleh Engels dan kemudian ditafsirkan oleh Lenin menjadi ideologi baku. Golongan kedua, merupakan kelompok yang melihat ketidaksesuaian penafsiran golongan pertama terhadap konsep Marxisme karena mereka mengatakan Kapitalisme akan runtuh dengan sendirinya, tetapi terbukti sampai saat ini tidak runtuhruntuh tetapi justru malah menguat. Golongan ketiga, merupakan penggolongan dalam tingkat ekonomi makro mengenai hubungan antarnegara. Teori mereka mengenai hubungan antara negara dunia ketiga dengan dunia maju, yang tidak lebih dari hubungan penghisapan. Negara maju ternyata menyedot kekayaan dari dunia ketiga, karena meskipun negara maju memberikan dollar sebagai pinjaman untuk investasi, tetapi di balik itu negara dunia ketiga harus menandatangani kontrak kesepakatan. Teori dependensi merupakan teori yang ditawarkan golongan Marxisme yang mencoba melawan teori-teori modernitas. Mazhab Frankfurt masuk ke dalam golongan kedua.
Jadi, tujuan terbentuknya komunitas ini (Mazhab Frankfurt) pada dasarnya adalah untuk pencerahan yang ditindaklanjuti dengan aksi. Meskipun tidak terkait dengan Marxisme, analisisnya tetap didasarkan pada kritisisme Karl Marx, terutama kemampuan Marx untuk menyadarkan golongan tertindas. Jadi, semangat yang mendasari Aliran Kritis ini dapat dikatakan sama dengan keinginan Marx yang menghendaki masyarakat yang bebas dari eksploitasi.

II.                Analisis teori
Argumen Dialetika Pencerahan
Teoretisi posmodern berbicara tentang  posmodernitas sementara teoretisi kritis berbicara tentang kapitalisme posmodern dengan menyatakan adanya beberapa perbedaan dalam pandangan mereka. Teori kritis Mazhab Frankfurt dalam penekanan ideologi, kesadaran dan budaya mengarah pada teoretisi posmodern. Teori ini berusaha membuat transformasi teoretis bukan hanya dalam Marxisme namn pada semua teori modernitas.
Horkheimer dan Adorno dalam Dialectics of Enlightenment mengkritik semua teori modernitas terdahulu, termasuk teori Marx tentang “Dominasi”. Mereka menyatakan bahwa teori kritis mereka sendiri lebih merupakan kritik menyeluruh atas peradaban dibandingkan dengan karya Marx yang hanya menerapkan kiritikan terhadap Kapitalisme. Mereka juga mengkonsepkan positivisme sebagai salah satu contoh terbaru upaya untuk mendominasikan ini. Teori Positivis pengetahuan tentang menyatakan baha kita mengatasi ketidaktahuan dan ketakmenentuan melalui teknik dan prosedur ilmu ala, khususnya Matematika. Pencerahan dipremiskan berdasarkan nafsu barat dalam mengatasi ketakutan dan ketidaktahuan dengan kepastian sains dan teknologi, yang merupakan contoh dominasi. Kelompok ini tidak melawan Pencerahan, namun mereka tidak sepakat dengan pencerahan, sebab aliran pencerahan telah membuat ilmu sains, teknologi dan sosial menjadi mitos.
Teori Dominasi yang dikembangkan oleh Mazhab Frankfurt disebutkan juga dengan Teori Kritik Identitas dalam Buku Adorno Nagative Dialectics.[6] Kritik Mazhab Frankfurt atas teori identitas sangat mirip dengan kritik postmodern atas repsentasi yang keduanya muncul dalam kritik positivisme. Teori identitas bukanlah teori pengetahuan menurut Adorno, namun ini merepresentasikan teori sosial, bahkan filsafat sejarah, yang menyatakan bahwa subjek dapat menguasai sepenuhnya objek.  Pandangan tentang identitas ini ada di hati arogansi peradaban barat sehubungan dengan dominasi atas alam, yang menurut teoretisi Frankfurt telah mengarah pada semua sikap kasar, baik kepada manusia maupun kepada lingkungan.
Argumen Industri Budaya
Menurut Madzhab Frankfurt, industri budaya merefleksikan konsolidasi dari komoditas fetis (commodity fetishism) dan dominasi dari pertukaran nilai monopoli kapital (Dominic 1995). Komoditas yang diproduksi oleh industri budaya dibentuk dengan kesadaran penuh tentang sebesar apakahnya nilainya di pasar. Motif keuntungan sangat jelas hingga memerlukan standardisasi. Salah satu contohnya adalah sistem bintang di Hollywood[7].
Sebagai pelopor generasi pertama Madzhab Frankfurt, Horkheimer dan Adorno banyak bekerja dalam kajian-kajian kritis budaya. Kedua ilmuwan Jerman yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran Marxisme ini melihat identitas yang ada dalam masyarakat sebagai sesuatu yang palsu secara umum maupun khusus. Pemikiran Horkheimer dan Adorno bermaksud memperjelas secara rasional struktur yang dimiliki oleh masyarakat industri sekarang dan melihat akibat-akibat dari struktur tersebut dalam kehidupan manusia dan kebudayaan. Menurut pandangan Marx, dalam kapitalis modern terdapat hubungan antara modal kapital dan pekerja. Hal ini akan tampak dalam hubungan diantara subyek-subyek individual yang bebas yakni pekerja dan yang memberi kerja. Relasi produksi ini berlangsung karena adanya ideologi dalam kehidupan sosial dan budaya. Masyarakat modern telah terkontaminasi oleh gerakan pencerahan abad ke- 18 dengan konsep pengagungan rasionya. Berbasis pada rasio inilah, Max Horkheimer mulai menganalisis keadaan masyarakat pasca-industri dan mengkritiknya karena tidak sesuai dengan konsep rasionalitas pencerahan itu sendiri.
Teori Kritis adalah sebuah gerakan intelektual yang dilakukan bersama-sama oleh sekelompok intelegensia dalam kurun sejarah tertentu. Teori kritis mau melawan dan menghantam segala bentuk teori yang bersikap obyektif dengan mengambil jarak terhadap historis nyata.  Madzhab Frankfurt bermaksud memperjelas secara rasional struktur yang dimiliki oleh masyarakat industri sekarang dan melihat akibat-akibat struktur tersebut dalam kehidupan manusia dan dalam kebudayaan. Madzhab Frankfurt menjelaskan semua itu dengan bertolak dari pemahaman tentang rasio dewasa ini, yaitu rasio teknik instrumental (Horkheimer 1974). Mereka ingin membangun teori yang mengkritik struktur dan konfigurasi masyarakat aktual sebagai akibat dari suatu pemahaman yang keliru tentang rasio.



[1] Tugas Mata Kuliah Teori-teori Sosial dengan Dosen Pembina Mata Kuliah Prof. Dr. Nusyirwan Effendi
[2] Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Universitas Negeri Padang, Angkatan Tahun 2016.
[3] Achmad Bahrur Rozi, “Pendidikan Dalam Perspektif Teori Kritis (Ke Arah Kontekstualisasi Pendidikan Yang Membebaskan)”, Jurnal Pelopor Pendidikan (5 : 1, Januari 2014), hal. 31-32.
[4] Ben Agger, Teori Sosial Kritis : Kritikan, Penerapan dan Implikasinya, (Yogyakarta : Kreasi Wacana, 2003), hal. 157-158
[5] K Bertens, Sejarah Filsafat Barat Abad XX : Inggris-Jerman, (Jakarta : Gramedia, 1990), hal. 177
[6] Salah satu buku yang ditulis oleh Adorno tahun 1973  yang berisi tentang kritikan terhadap filsafat idealis dan eksistensialis. Dalam bukunya ini membahas tentang Teori Kritik Identitas. Adorno memandang bahwa teori kritik identitas merupakan teori pengetahuan yang menyatakan bahwa konsep dalam bahasa dapa dijabarkan dunia eksternal secara sempurna.
[7] Heidy Arviani dalam (Dominic 1995), “Budaya Global dalam Industri Budaya : Tinjauan Mazhab Frankfurt dalam Ikalan, Pop Culture, dan Industri Hiburan”, Global & Policy (1 :2, Juli-Desember 2013), hal. 131-132

No comments:

Post a Comment

PENDIDIKAN IPS SEBAGAI PENDIDIKAN NILAI DAN KARAKTER

  Pengertian dan Hakikat Nilai 1.      Pengertian Nilai Nilai merupakan sebuah dasar atau tolak ukur dalam bertingkah laku, bersikap dan...