Sisawah merupakan salah satu nagari yang ada di Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung. Nagari yang masih asri dan jauh dari polusi. Mengenai nagari ini meski mengetahui asal usul atau sejarah ringkas terbentuknya nagari ini.
Kesatuan politik dan geografis yang utama di Minangkabau
tradisional adalah nagari. Setiap nagari memiliki sejarahnya dan asal usulnya
sendiri begitu juga dengan Nagari Sisawah. Menurut sejarahnya, nama
Sisawah dan proses terbentuknya menjadi sebuah nagari terdiri
dari beberapa versi. Versi yang pertama diambil
dari nama “Sawah Panjang” yaitu pada
awalnya sebagai pembatas antara korong-korong. Dahulu wilayah ini
terpecah-pecah yang dinamakan “Korong”,
antara satu wilayah dengan wilayah lainnya dibatasi
oleh ”sawah
panjang” yang diatasnya menjulang sebuah tanjung. Ketika waktu bergulir perbedaan antar
wilayah itu tidak begitu tampak, sehingga sawah panjang tersebut mereka garab
bersama yang hasil panen digunakan untuk upacara-upacara adat. Bisa jadi bukan perbedaan wilayah yang semakin hilang,
akan tetapi masyarakat telah menjalin persaudaraan diantara sesama sehingga
tidak diperlukan pembatas. Dengan
demikian sawah tersebut bisa digarap secara bersama-sama secara
gotong-royong.[1]
Sawah Panjang yang digarap penduduk ini mengalami
kekeringan, akibat kemarau yang sangat panjang sehingga banyak dari
tanaman petani yang gagal panen. Untuk mengatasi masalah tersebut kepala-kepala suku
berunding sehingga menghasilkan keputusan
untuk memanfaatkan aliran batang Sumpur dengan membuat kincir air. Melalui
Sawah Panjang tersebut
sawah-sawah penduduk mendapatkan air yang cukup. Posisi Sawah Panjang berada jalur
tinggi yang sangat strategis mengalirkan air ke sawah-sawah penduduk. Ternyata terjadi permasalahan pembagian air sawah, kesalapahaman suku-suku pemilik sawah di sekitar Sawah Panjang
semakin meruncing, untuk menyelesaikannya ninik mamak melarang
kincir itu berfungsi. Sejak itu hamparan
sawah
tersebut kering, masyarakat sisawah menyebutnya liek[2], bekas sawah ini dijadikan pemukiman oleh penduduk dan
mereka sepakat memberi nama Sisawah yaitu sisa dan sawah.[3] Mengenai tahun awal nama Sisawah ini muncul tidak ada
yang mengetahui, hanya cerita lisan secara turun temurun.
Versi yang kedua mengenai
sejarah Sisawah ini menurut wari
nan bajawek halipah nan ditanggung
(cerita yang diterima dan diamanatkan orang tua- tua ) berkaitan dengan asal usul kedatangan dua suku besar yaitu kubu Koto Piliang dan kubu
Bodi Caniago. Kubu Koto Piliang berasal
dari “Mudiak” yakni
berasal dari Sumpur Kudus yang beraja
kepada rajo Ibadat. Sedangkan, Kubu Bodi Caniago berasal dari Hilir, masuk
melalui Batang Sinamar yang berasal dari Guguk
Nan Tigo, dibawa oleh tiga datuk, yakni Datuk Malin Putih (Bio-bio), Datuk
Pangulu Sati (Ranah Katemuan), dan Binuang Sati (Pulau Basung). Kedua kubu ini
ingin saling mendominasi antara satu dengan yang lainnya, sangat susah menerima
kedua aliran ini yang berbeda, serta sangat susah menyatukannya. Sehingga pada
akhirnya aliran kedua kubu besar ini diterapkan di Sisawah, karena kesulitan
menerima kedua kubu ini pada masa awalnya maka wilayah tersebut diberi nama
wilayah ini Sisawah “Susah paya menerima sifat dua kubu”.[4]
Versi ninik mamak dan urang tuo-tuo, nagari Sisawah
berasal dari 5 (lima) Jurai yang disebut juga Taratak. Taratak merupakan suatu
pemukiman baru yang kecil dan mempunyai beberapa pondok (dangau), biasanya dikelilingi oleh hutan.[5]
Setiap Jurai dipimpin oleh Urang Tuo
Taratak (Inyik) nan manaruko mananggalung dibantu oleh beberapa orang Tuk Ampek Taratak yang disebut juga Ninik Mamak Limbago (Urang Sako) dan
disetiap Taratak juga mempunyai Kacik nan
Bapagantungan Gadang nan Bapalarasan
yang menjadi Ico Paliaro di taratak
masing-masing. Jurai yang lima tersebut adalah Sibolin, Sungai Tampang, Kabun,
Simawik, dan Rumbai.[6]
Lah Bakorong, Bakampung, Basuku, Bataratak, Badusun,
Bakoto, Baru Banagari. Ado ampek suku dan limo suku yang didalammnyo sapuluah
buah kampung : Caniago, Piliang, Sikumbang, Pitopang, Kampai panjang, Kampai
Darek, Malayu iliah, Malayu Tongah, Malayu Tanjung Pauh jo Tobo. Satiok kampung
adorumah godang nan bagonjong nan dipimpin ninik mamak nan ampek jinih.[7]
(Artinya sudah ada korong, kampung, suku,
taratak, dusun, koto, baru kemudian ada nagari. Ada empat suku dan lima suku
didalamnya sepuluh kampung : Suku Caniago, Piliang, Sikumbang, Pitopang, Kampai
Panjang, Kampai Darat, Melayu Hilir, Melayu Tengah, Melayu Tanjung Paruh, dan
suku Tobo. Setiap kampung ada rumah gadang bergonjong (rumah adat Minangkabau)
yang dipimpin oleh ninik mamak empat jurai.)
Ada empat suku dan lima suku
yang didalamnya terdiri dari sepuluh buah kampung : Caniago, Piliang,
Sikumbang, Pitopang, Kampai Panjang, Kampai Darat, Melayu Hilir, Melayu Tengah, Melayu Tanjung Paru, dan
Tobo. Setiap Kampung ada rumah Gadang yang bergonjong yang dipimpin oleh ninik
mamak empat jinih). Berdasarkan penggabungan adat lima jurai diatas
terbentuklah pemerintahan nagari Sisawah.[8]
Mengenai tahun pastinya awal cerita sejarah adanya nagari Sisawah versi kedua
ini juga tidak ada sumber berupa arsip, hanya melalui cerita lisan secara turun
temurun dari zaman dahulu hingga sekarang.
Analisa penulis bahwa asal
muasal nagari Sisawah ini berdasarkan lima jurai yakni Simawik, Rumbai, Sungai
Tampang, Sibolin dan Kabun. Penduduk jurai-jurai ini berasal dari dua kubu
besar atau aliran yang menempati wilayah ini yakni Kubu Caniago yang datang
dari mudik atau utusan Raja Ibadat yang membentuk taratak Simawik, Rumbai dan
Sungai Tampang dan Kubu Koto Piliang yang datang dari hilir yang dikenal dengan
Datuk Malin Putih yang membentuk taratak Sibolin dan Kabun.
[5] Tsuyoshi
Kato, Adat Minangkabau dan Merantau Dalam
Perspektif Sejarah, (Jakarta : Balai Pustaka, 2005), hal. 65
[6] Wawancara dengan Syair Taktam, selaku tokoh adat dan ninik mamak di
Nagari Sisawah tanggal 22 Februari 2014
[7] Jurin Gagar
Tangari, et all, Asal Muasal Nagari
Sisawah Manuruik Warih Nan Bajawek Halipah Nan Ditampung, (Sisawah : Kantor
Wali Nagari Sisawah, 2002), Hal. 1
No comments:
Post a Comment