Sunday, December 10, 2017

Sejarah Ringkas Pasar Nagari Sisawah



Muncul dan berkembangnya sebuah pasar secara garis besar diawali dengan adanya dua kebutuhan yang berbeda sehingga munculnya sistem barter pada masa awalnya. Sejarah awal berdirinya Pasar Nagari Sisawah, pada awalnya juga hanya berupa kumpulan-kumpulan kecil, karena kebutuhan masyarakat untuk saling memenuhi sehingga muncullah interaksi masyarakat.
Awalnya perkumpulan di depan Mesjid Jorong Koto Sisawah sekitar tahun 1919 yang dikenal dengan Tepi Balai. Masa awal ini penduduk yang datang dominan  adalah yang tinggal disekitar Tepi Balai. Keramaian ini diadakan pada hari jumat, puncak ramainya setelah shalat jumat, terutama para bapak-bapak bercengkrama dan saling bersilaturahmi di  Tepi Balai.[1] Hanya berselang beberapa tahun, terjadi permasalahan karena masyarakat semakin ramai berbelanja ke Tepi Balai sehingga mengganggu musyawarah adat ninik mamak yang dilaksanakan di balai-balai yang berdampingan letaknya dengan masjid.
Kondisi tempat yang tidak memadai dan untuk menghindari konflik, maka dipindahkan  ke Simpang Tiga Nagari Sisawah sekitar awal tahun 1922, hari pasarnya dialihkan menjadi hari minggu. Penduduk semakin banyak berdatangan ke Simpang Tiga setiap minggunya, para  pedagang berjejeran di tepi jalan. Tidak cukup satu tahun, Pasar kecil di Simpang Tiga dipindahkan ke Ikua Koto (Lokasi Pasar Nagari Sekarang) tahun 1925 karena tempatnya lebih strategis di tepi sungai batang Sumpur. Pada lokasi ini dibuat kesepakatan untuk mendirikan pasar nagari pada tahun 1936, dengan pengurus pertama Datuk Intanabu. Datuk Intanabu adalah orang paling disegani oleh masyarakat banyak. Ia bersuku Kampai Panjang, sehingga tempat pembangunan pasar pertama tersebut tanah adalah milik suku Kampai. Jabatan Intanabu di dalam nagari adalah sebagai Pengulu Kepala.[2]
Tahun 1940-an diadakan rapat nagari untuk membicarakan pembangunan pasar, kemudian diputuskan untuk gotong royong bersama, dibuat dengan Batakuah Kayu[3] terdiri dari los-los kecil, semua bahannya kayu dialasi atap daun rumbio yang memiliki luas sangat kecil, masyarakat Sisawah menamakan bangunan tersebut dengan Layang-layang.[4] Pada masa ini dikabarkan bahwa damar putih laku dipasaran, sehingga bisa dianalisa pasar Nagari Sisawah menjadi bagian dari perdagangan damar putih karena Sisawah salah satu penghasil damar putih terbesar dijalur pedagangan timur sumatera.
Kemudian pada masa perang PRRI, wilayah Sisawah digunakan sebagai lokasi pengaturan strategi perang atau dikenal dengan benteng dan sebagai tempat persembunyian karena terletak dikawasan hutan yang berbukit-bukit, termasuk didalamnya pasar nagari digunakan sebagai basis peperangan sehingga pada tahun 1960-an pasar ini dibakar oleh Tentara Republik Indonesia, kemudian dibangun lagi oleh tentara PRRI dengan pimpinan Sugino. Setelah selesai Perang PRRI, pengurus pasar Nagari Sisawah dikepalai oleh ninik mamak yaitu Bagindo Rajo.[5]
Barang dagangan yang paling dominan adalah dagangan hasil bumi, pasar Nagari Sisawah juga sebagai transit hasil rempah-rempah dari daratan Sumpur Kudus, perbatasan Lintau Buo menuju aliran batang Kuantan Riau, mereka mengangkut barang dagangan ke Pasar Sisawah dengan Kuda Beban.[6] Sedangkan dari Nagari Sisawah dibawa melalui jalur sungai batang  Sumpur menuju batang Kuantan, karena pada zaman dahulu jalur sungai merupakan jalur lintas transportasi. Hasil rempahnya berupa Damar Putih, Geta merah, Rotan, sebagian kecil emas yang didulang. Kelompok jenis dagangan tersebut dinamakan  Himpunan Barang Mudo,dengan artian barang yang dijualnya adalah barang yang sangat laris dipasaran.  Pedagang-pedagang ini banyak yang berasal dari Pengkalan Riau.[7]
Seiring perkembangan pembangunan tempat-tempat umum semakin diprioritaskan oleh Pemerintah Daerah. Pasar-pasar nagari mulai dibangun disetiap nagari di Kabupaten Sijunjung, termasuk kecamatan Sumpur Kudus, salah satunya pembangunan sarana prasarana di pasar Nagari Sisawah. Bangunan Los Permanen pertama didirikan pada tahun 1978, waktu itu pasar Nagari Sisawah mulai mengalami perkembangan dari segi pedagang dan pengunjung.[8] Keberadaan pasar Nagari Sisawah cukup diperhitungkan, karena tahun 1990-an sampai tahun 2000-an, pasar Sisawah merupakan salah satu pasar yang pengunjungnya ramai, walaupun ada pasar Kumanis, penduduk Tamparungo banyak yang berbelanja ke pasar Nagari Sisawah karena secara ekonomi Pasar Sisawah merupakan pusat sosial ekonomi suatu lingkungan, penduduk dapat memenuhi kebutuhannya terutama kebutuhan barang-barang pokok sehari-hari atau kebutuhan jasa-jasa dalam bentuk enceran, sedangkan dari sudut pelayanannya pasar merupakan sarana umum yang ditempatkan oleh pemerintah sebagai tempat transaksi jual beli umum dimana pedagang secara teratur dan langsung memperdagangkan barang dan jasa dengan mengutamakan adanya barang-barang kebutuhan sehari-hari. Konsep inilah yang menonjol di nagari pasar nagari Sisawah.[9]
  Selain pasar Sisawah, di Kecamatan Sumpur Kudus terdapat 6 buah pasar nagari dan 1 pasar Serikat. Sebelah utara Nagari Sisawah terdapat Nagari Manganti yang diadakan setiap hari senin. Pasar ini berdiri tahun 2009, dilihat dari laporan pemasukan karcis pasar ke dinas Kopperindag hanya sampai tahun 2012, karena sampai saat sekarang pasar ini hampir tidak ada penghuninya. Kemudian di Nagari Sumpur Kudus Selatan (Calau) ada juga pasar nagari yang dilaksanakan pada setiap hari jumat, pasar ini ramai dikunjungi oleh pedagang dan pembeli, bahkan penduduk Manganti, Nagari Sumpur Kudus, Silantai, Unggan dan Calau berbelanja di pasar ini.[10] Pasar-pasar kecil lainnya yang pendiriannya setelah tahun 2000-an yakni pasar Unggan, Pasar Silantai, Sabiluru, Tanjung Bonai Aur dan Tamparungo. Namun, kondisinya hampir sama dengan pasar Manganti.[11]
Setiap pasar nagari ini memiliki ciri khas masing-masing, pasar Sisawah letaknya lebih strategis dibandingkan pasar Nagari di Sumpur Kudus, pasar Manganti dan pasar Unggan karena lebih dekat dengan ibukota kecamatan dan kabupaten sehingga ramai dikunjungi, daya tarik lainnya adalah Sisawah sebagai penghasil berbagai kerajinan yang banyak dicari masyarakat, seperti Tudung Nasi Emas. Namun, perkembangan tekonologi dan trasportasi ini semakin mengancam keberadaan pasar Nagari Sisawah.
Selain pasar nagari, nagari Sisawah juga me miliki pasar Serikat, yakni Pasar Kumanis yang terletak di ibukota Kecamatan Sumpur Kudus, pasar ini dilaksanakan setiap hari selasa, biasanya pengunjung pasar ini tidak hanya masyarakat Kecamatan Sumpur Kudus semata, banyak yang datang Lintau, Koto Panjang yang merupakan bagain kabupaten Tanah Datar. Pedagang yang berdagang di Pasar Kumanis, hari minggu banyak juga yang menggelar dagangannya di Pasar Sisawah.[12]


[1] Wawancara dengan Syair Takoh Adat di Nagari Sisawah, tanggl 10 Februari 2014
[2] Ibid, Wawancara dengan Syair Taktam tanggl 10 Februari 2014
[3] Bangunan yang dibuat dengan bahan kayu, dialas dengan atap rumbio, dengan dibentuk los atau petak-petak kecil.
[4] Wawancara dengan Syair Taktam selaku ninik mamak dan tokoh adat di nagari Sisawah tanggal 10 Februari 2014
[5] Wawancara dengan Sahar Drajat, selaku Pengurus pasar nagari Sisawah pada tanggal 22 Februari 2014
[6] Wawancara dengan Ervenely selaku Wali Nagari Sisawah pada tanggal 28 Februari 2014
[7] Wawancara dengan Syair Taktam selaku orang dituahkan di nagari Sisawah pada tanggal 10 Februari 2014
[8] Wawancara  dengan Ismail selaku mantan pengurus pasar Nagari Sisawah tahun 1979-2007, tanggal 15 Februari 2014
[9] Wawancara dengan Helgendri Selaku sekretaris Nagari Sisawah, tanggal 10 Februari 2014
[10] Wawancara dengan Sabrina selaku Kabid Perdagangan di Koperindag, tanggal 26 Februari 2014
[11]  Pendapatan Retribusi Karcis Pasar Di Kabupaten Sijunjung tahun 2010
[12]Wawancara dengan Ervenely wali nagari Sisawah pada tanggal 27 Februari 2014

No comments:

Post a Comment

PENDIDIKAN IPS SEBAGAI PENDIDIKAN NILAI DAN KARAKTER

  Pengertian dan Hakikat Nilai 1.      Pengertian Nilai Nilai merupakan sebuah dasar atau tolak ukur dalam bertingkah laku, bersikap dan...