Muncul
dan berkembangnya sebuah pasar secara garis besar diawali dengan adanya dua
kebutuhan yang berbeda sehingga munculnya sistem barter pada masa awalnya. Sejarah
awal berdirinya Pasar
Nagari Sisawah, pada
awalnya juga hanya berupa
kumpulan-kumpulan kecil, karena kebutuhan
masyarakat untuk saling memenuhi sehingga muncullah interaksi masyarakat.
Awalnya perkumpulan
di depan Mesjid Jorong Koto Sisawah
sekitar tahun 1919 yang dikenal dengan Tepi Balai. Masa awal ini
penduduk yang datang dominan adalah yang
tinggal disekitar Tepi Balai. Keramaian ini diadakan
pada hari jumat, puncak ramainya
setelah shalat jumat, terutama para bapak-bapak bercengkrama dan saling
bersilaturahmi di Tepi Balai.[1]
Hanya berselang beberapa tahun, terjadi permasalahan karena masyarakat
semakin ramai berbelanja ke Tepi Balai sehingga mengganggu musyawarah adat
ninik mamak yang dilaksanakan di balai-balai
yang berdampingan letaknya dengan masjid.
Kondisi tempat yang tidak
memadai dan untuk menghindari konflik, maka dipindahkan ke Simpang Tiga Nagari Sisawah sekitar awal tahun 1922,
hari pasarnya dialihkan menjadi
hari minggu. Penduduk semakin banyak
berdatangan ke Simpang Tiga setiap minggunya, para pedagang berjejeran di tepi jalan. Tidak
cukup satu tahun, Pasar kecil di Simpang Tiga dipindahkan ke
Ikua Koto (Lokasi Pasar Nagari
Sekarang) tahun 1925 karena tempatnya
lebih strategis di tepi sungai batang Sumpur.
Pada lokasi ini dibuat kesepakatan untuk mendirikan pasar nagari pada tahun 1936,
dengan pengurus pertama Datuk Intanabu. Datuk Intanabu adalah
orang paling disegani oleh masyarakat banyak.
Ia bersuku Kampai Panjang, sehingga tempat
pembangunan pasar pertama tersebut tanah adalah milik suku Kampai. Jabatan Intanabu
di dalam
nagari adalah sebagai Pengulu Kepala.[2]
Tahun 1940-an diadakan
rapat nagari untuk membicarakan pembangunan
pasar, kemudian diputuskan untuk gotong
royong bersama, dibuat dengan Batakuah
Kayu[3] terdiri
dari los-los kecil, semua bahannya kayu dialasi atap daun rumbio yang memiliki
luas sangat kecil, masyarakat
Sisawah menamakan bangunan tersebut dengan Layang-layang.[4] Pada masa ini dikabarkan bahwa damar putih laku
dipasaran, sehingga bisa dianalisa pasar Nagari Sisawah menjadi bagian dari perdagangan
damar putih karena Sisawah salah satu penghasil damar putih terbesar dijalur
pedagangan timur sumatera.
Kemudian pada masa perang PRRI, wilayah Sisawah digunakan sebagai lokasi
pengaturan strategi perang atau dikenal dengan benteng dan sebagai tempat
persembunyian karena terletak dikawasan hutan yang berbukit-bukit, termasuk
didalamnya pasar
nagari digunakan sebagai
basis peperangan sehingga pada
tahun 1960-an pasar
ini dibakar oleh Tentara
Republik Indonesia, kemudian dibangun lagi oleh tentara PRRI dengan pimpinan
Sugino. Setelah selesai Perang PRRI, pengurus pasar Nagari Sisawah dikepalai
oleh ninik mamak yaitu Bagindo Rajo.[5]
Barang dagangan yang paling dominan
adalah dagangan hasil bumi, pasar Nagari
Sisawah juga sebagai transit hasil
rempah-rempah dari daratan Sumpur Kudus, perbatasan Lintau Buo menuju aliran
batang Kuantan Riau, mereka mengangkut barang dagangan ke Pasar Sisawah dengan
Kuda Beban.[6] Sedangkan
dari Nagari Sisawah dibawa melalui jalur
sungai batang Sumpur
menuju batang Kuantan, karena
pada zaman dahulu jalur sungai merupakan jalur lintas transportasi. Hasil
rempahnya berupa Damar Putih, Geta merah, Rotan, sebagian kecil emas yang didulang. Kelompok
jenis dagangan tersebut dinamakan Himpunan Barang
Mudo,dengan artian barang yang
dijualnya adalah barang yang sangat laris dipasaran. Pedagang-pedagang ini banyak yang
berasal dari Pengkalan Riau.[7]
Seiring perkembangan pembangunan
tempat-tempat umum semakin diprioritaskan oleh Pemerintah Daerah. Pasar-pasar
nagari mulai dibangun disetiap nagari di Kabupaten Sijunjung, termasuk
kecamatan Sumpur Kudus, salah satunya pembangunan sarana prasarana di pasar Nagari
Sisawah. Bangunan Los Permanen pertama didirikan pada tahun 1978, waktu itu
pasar Nagari Sisawah mulai mengalami perkembangan dari segi pedagang dan
pengunjung.[8]
Keberadaan pasar Nagari Sisawah cukup diperhitungkan, karena tahun 1990-an
sampai tahun 2000-an, pasar Sisawah merupakan salah satu pasar yang
pengunjungnya ramai, walaupun ada pasar Kumanis, penduduk Tamparungo banyak
yang berbelanja ke pasar Nagari Sisawah karena secara
ekonomi Pasar Sisawah merupakan pusat sosial
ekonomi suatu lingkungan, penduduk dapat memenuhi kebutuhannya terutama
kebutuhan barang-barang pokok sehari-hari atau kebutuhan jasa-jasa dalam bentuk
enceran, sedangkan dari sudut pelayanannya pasar merupakan sarana umum yang
ditempatkan oleh pemerintah sebagai tempat transaksi jual beli umum dimana
pedagang secara teratur dan langsung memperdagangkan barang dan jasa dengan
mengutamakan adanya barang-barang kebutuhan sehari-hari. Konsep inilah yang menonjol di nagari pasar nagari
Sisawah.[9]
Selain
pasar Sisawah, di Kecamatan Sumpur Kudus terdapat 6 buah pasar nagari dan 1
pasar Serikat. Sebelah utara Nagari Sisawah terdapat Nagari Manganti yang diadakan setiap hari senin. Pasar ini berdiri tahun
2009, dilihat dari laporan pemasukan karcis pasar ke dinas Kopperindag hanya
sampai tahun 2012, karena sampai saat sekarang pasar ini hampir tidak ada
penghuninya. Kemudian di Nagari Sumpur Kudus Selatan (Calau) ada juga pasar nagari
yang dilaksanakan pada setiap hari jumat, pasar ini ramai dikunjungi oleh
pedagang dan pembeli, bahkan penduduk Manganti, Nagari Sumpur Kudus, Silantai,
Unggan dan Calau berbelanja di pasar ini.[10]
Pasar-pasar kecil lainnya yang pendiriannya setelah tahun 2000-an yakni pasar
Unggan, Pasar Silantai, Sabiluru, Tanjung Bonai Aur dan Tamparungo. Namun,
kondisinya hampir sama dengan pasar Manganti.[11]
Setiap pasar nagari ini
memiliki ciri khas masing-masing, pasar Sisawah letaknya lebih strategis
dibandingkan pasar Nagari di Sumpur Kudus, pasar Manganti dan pasar Unggan
karena lebih dekat dengan ibukota kecamatan dan kabupaten sehingga ramai
dikunjungi, daya tarik lainnya adalah Sisawah sebagai penghasil berbagai
kerajinan yang banyak dicari masyarakat, seperti Tudung Nasi Emas. Namun,
perkembangan tekonologi dan trasportasi ini semakin mengancam keberadaan pasar
Nagari Sisawah.
Selain pasar nagari, nagari
Sisawah juga me miliki pasar Serikat, yakni Pasar Kumanis yang terletak di ibukota
Kecamatan Sumpur Kudus, pasar ini dilaksanakan setiap hari selasa, biasanya
pengunjung pasar ini tidak hanya masyarakat Kecamatan Sumpur Kudus semata,
banyak yang datang Lintau, Koto Panjang yang merupakan bagain kabupaten Tanah
Datar. Pedagang yang berdagang di Pasar Kumanis, hari minggu banyak juga yang
menggelar dagangannya di Pasar Sisawah.[12]
[3] Bangunan yang dibuat
dengan bahan kayu, dialas dengan atap rumbio, dengan dibentuk los atau
petak-petak kecil.
[4] Wawancara dengan Syair Taktam selaku ninik mamak dan tokoh adat di
nagari Sisawah tanggal 10 Februari 2014
[5] Wawancara dengan Sahar Drajat, selaku Pengurus pasar nagari Sisawah
pada tanggal 22 Februari 2014
[7] Wawancara dengan Syair Taktam selaku orang
dituahkan di nagari Sisawah pada tanggal 10 Februari 2014
[8] Wawancara dengan Ismail
selaku mantan pengurus pasar Nagari Sisawah tahun 1979-2007, tanggal 15
Februari 2014
No comments:
Post a Comment